PROFIL DPW IMABA BANGKALAN
Tri Khidmat; Religius, Akademis, Tranformatif
Sejalan dengan apa yang dipaparkan oleh Knopfemacher (Suwono, 1978) bahwasanya mahasiswa padasarnya adalah seseorang calon sarjana yang dididik didalam sebuah perguruan tinggi yang nantinya diharapkan mampu menjadi calon-calon yang intelektual dan menjadi bibit-bibit agen perubahan. Selain sebagai the guardian of velue yang memang dituntut menjaga nilai-nilai masyarakat yang kebenarannya mutlak: kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dan lainnya, mahasiswa juga diharapkan mampu berpikir secara ilmiah tentang nilai nilai yang mereka jaga serta membawa, menyampaikan dan menyebarluaskan nilai-nilai itu sendiri. Maka, sangat jelas keberadaan mahasiswa sangatlah berpengaruh terhadap stabilitas, perubahan, dan perbaikan moral masyarakat. Mahasiswa tak ubahnya ujung tombak perubahan sesuai dengan fungsi dan perannya sebagai man of analysis, sosial control, dan agent of change, sehingga hal ini sudah sangat lazim apabila mahasiswa menerapkannya dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui sebuah perkumpulan, komunitas, atau bahkan organisasi kemahasiswaan.
Dewasa ini menjadi tolak ukur keberadaan Ikatan Mahasiswa BataBata (IMABA) yang memang lahir dengan tri khidmat (Religius, Akademis, dan Transformatif) yang menjadi falsafah IMABA hingga saat ini. Keberadaan IMABA jelas sangat berdampak baik terhadap Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata dan masyarakat pada umumnya. IMABA sebagai organisasi kemahasiswaan alumni santri Bata-Bata diharapkan mampu menjadi harapan lahirnya intelektual-intelektual Bata-Bata yang mamberikan kontribusi dan wahana baru untuk perubahan dan perbaikan masyarakat pada umumnya. Sejak didirikannya IMABA pada tanggal 14 Dzul Hijjah 1425 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 25 januari 2005 Masehi di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, IMABA terus berkembang dan melebarkan sayapnya sealur dengan fungsi-perannya sebagai wadah akademisi santri Bata-Bata serta mentransformasikan keilmuan yang dimilikinya. Perkembangannya pun sangat pesat, bahkan dari tahun ke tahun IMABA sudah semakin menyebar di beberapa wilayah di seantero Nusantara bahkan Asia.
Pada tahun 2008 beberapa alumni santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata melanjutkan studinya di Universitas Trunojoyo Madura yang terletak di telang Kamal Bangkalan, mereka adalah Sutrisno, Fathorrohman, Moh Ali, Huddadi, Mukhlis, Saedy Romli, dan Rusdi. Mereka harus tinggal di Pondok Pesantren As-ma’ul Husna dikarenakan regulasi dari Pemda Pamekasan dan Universitas. Sehingga untuk niatan membentuk sebuah Basecamp Mahasiswa Bata-Bata yang sejatinya dikenal dengan IMABA tidak memungkinkan. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena setahun kemudian mereka harus berpindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus dikarenakan terkendala transportasi, mereka memutuskan untuk tinggal di Gadang Telang Kamal. Pada tahun 2010 mereka merasa tidak nyaman dengan keadaan tempat tinggal barunya dan kemudian memutuskan untuk pindah ke depan SMA 1 Kamal. Disisi lain ada beberapa mahasiswa baru alumni santri Bata-Bata yang kuliah di UTM namun tinggal di Pon-Pes Al-Hikam Bangkalan yang tentunya sangat jauh dari kampus UTM. Mereka adalah Achmad Fauzan, Amin Rois, Mahmud Suyadi, Faruq, Badrus Syamsi, dan Ali Wafa. Sehingga kemudian pada tahun 2011 mereka berfikir bagaimana untuk memulai IMABA di Bangkalan, kemudian dengan segala pemikiran dan pertimbangan mereka mendeklarasikan Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (DPW IMABA) Bangkalan sekaligus mendirikan Base Camp IMABA Bangkalan di Jalan Raya Telang (utara SMA 1 Kamal).
Dirulis oleh: Lembaga Pers IMABA Bangkalan
Basecamp IMABA Bangkalan, 4 Maret 2017

Komentar